lingkupperistiwa.com, LOMBOK – Di tengah gencarnya promosi budaya daerah dan semangat membangun generasi muda berprestasi, sebuah capaian membanggakan justru datang dari jalur yang nyaris tanpa sorotan. Tim mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau, dengan Dellas Akhmeidi sebagai ketua tim, sukses mengharumkan nama Kampar, Pekanbaru, dan Provinsi Riau di tingkat nasional usai meraih Silver Medal dan Bronze Medal pada ajang Mandalika Essay Competition (MEC) 8 yang digelar di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Ironisnya, di balik prestasi tersebut, muncul pertanyaan yang tak sedikit diperbincangkan: ke mana perhatian pemerintah daerah ketika anak-anak muda ini berjuang membawa nama budaya dan daerahnya ke panggung nasional?
Kompetisi nasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mataram bekerja sama dengan Lembaga Setara Prisma Nusantara (Nusantara Muda) itu mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk beradu gagasan inovatif dalam berbagai bidang strategis.
Dalam kompetisi tersebut, tim mahasiswa UIN Suska Riau tampil mencolok dengan keberhasilan meraih dua medali pada dua subtema berbeda.
Pada Subtema Pariwisata dan Budaya, tim berhasil meraih Silver Medal melalui karya berjudul:
“Dari Legenda ke Literasi: Balimau Kasai Sebagai Ritus Air Dalam Gerakan Ekologis Berbasis Kearifan Kampar.”
Karya ilmiah tersebut mengangkat tradisi Balimau Kasai khas Kampar, Riau, sebagai lebih dari sekadar ritual budaya menjelang Ramadan. Melalui pendekatan literasi dan ekologi, tradisi lokal itu diposisikan sebagai kekuatan sosial berbasis kearifan lokal yang dapat mendorong kesadaran lingkungan sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat.
Di tangan generasi muda ini, budaya Kampar tak sekadar dikenang sebagai warisan leluhur, melainkan dibawa naik kelas hingga mendapat pengakuan di forum nasional.
Tak berhenti di sana, tim yang sama juga sukses meraih Bronze Medal pada Subtema Pangan melalui karya inovatif berjudul:
“CHIPSKU: Menerapkan Inovasi untuk Menciptakan Solusi Cemilan Sehat yang Berkelanjutan, Ramah Lingkungan, dan Berdaya Saing Tinggi di Era Transformasi Digital.”
Karya tersebut menawarkan konsep pangan inovatif yang memadukan aspek kesehatan, keberlanjutan lingkungan, dan daya saing produk di tengah perkembangan era digital.
Namun capaian membanggakan itu menyisakan ironi tersendiri. Berdasarkan informasi yang dihimpun, keberangkatan tim menuju Lombok disebut berlangsung tanpa perhatian atau dukungan signifikan dari pemerintah daerah, baik Pemerintah Kabupaten Kampar, Pemerintah Kota Pekanbaru sebagai domisili peserta, maupun Pemerintah Provinsi Riau, padahal salah satu karya yang dibawa justru mengangkat identitas budaya lokal Kampar ke tingkat nasional.
Situasi tersebut memunculkan pertanyaan publik:
Apakah perhatian terhadap generasi muda berprestasi baru hadir setelah medali berhasil dibawa pulang?
Di tengah keterbatasan, tim mahasiswa ini justru membuktikan bahwa semangat, gagasan, dan kecintaan terhadap budaya daerah tetap mampu membawa nama Riau bersinar di tingkat nasional.
Keberhasilan ini sekaligus menjadi pesan bahwa prestasi anak muda tak selalu lahir dari fasilitas besar, tetapi dari keberanian untuk bermimpi, berjuang, dan membawa identitas daerah ke panggung Indonesia.
Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh informasi mengenai bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap keberangkatan tim mahasiswa tersebut ke ajang nasional di Lombok.
Editor : Inayah

Tim Redaksi