lingkupperistiwa.com, Pekanbaru 27 Juni 2026 – “Hidup bukan tentang seberapa tinggi kita pernah berdiri, tetapi seberapa sering kita bangkit setelah jatuh.”
Tak banyak yang tahu, di balik senyum ramah Kang Dudung Sulaeman (KDS), tersimpan perjalanan hidup yang penuh liku. Jalan hidupnya tidak pernah lurus, tetapi justru dari setiap tikungan itulah lahir pengalaman yang membentuk dirinya.
Di usia mudanya, KDS pernah merasakan gemerlap dunia hiburan sebagai artis sinetron kolosal Indosiar garapan produser Genta Buana Pitaloka tahun 2021 di sinetron Misteri Gunung Merapi dan Angling Darma. Namun, panggung bukanlah tujuan akhirnya. Ia kemudian merantau ke Timur Tengah tahun 2002-2004 bekerja sebagai seorang chef. Jauh dari keluarga, ia belajar bahwa kerja keras dan kesabaran adalah bekal utama untuk bertahan hidup.
Sekembalinya ke Indonesia, KDS memilih jalan yang berbeda. Ia menjadi guru honorer, bahkan berstatus guru sukwan, mengajar dengan honor yang nyaris tak seberapa di tahun 2006-2009.
Banyak yang bertanya mengapa ia bertahan. Jawabannya sederhana,
“Karena ilmu yang bermanfaat nilainya lebih besar daripada gaji.”
Perjalanan hidup kembali membawanya menjadi anggota Satpol PP Kabupaten Karawang tahun 2010. Selama satu tahun ia mengabdi menjaga ketertiban masyarakat. Namun, hatinya berkata bahwa masih ada mimpi lain yang harus diperjuangkan.
Dengan bekal keberanian, ia hijrah ke Pekanbaru tahun 2011.
Hari-hari pertama di kota itu bukanlah hari yang mudah. Demi menyambung hidup, ia berjualan sayur selama tiga bulan di pasar Tangor Kulim. Tak sedikit orang yang memandang sebelah mata. Namun, KDS percaya bahwa tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakukan dengan cara yang halal.
Kesempatan pun datang. Dunia pendidikan kembali membuka pintu. Ia mengajar di IRGT School, lalu dipercaya menjadi kepala sekolah di SD At Thoiba, kemudian memimpin SMA IT Soeman HS Tenayan Raya, hingga akhirnya mengabdikan diri di Sekolah Qur’an Pelopor.
Di sela kesibukannya, KDS mengisi waktunya dengan berdakwah dari satu kota ke kota lain. Ia juga menjadi Pendongeng Riau, menyampaikan pesan-pesan moral kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan.
Kecintaannya pada budaya membuatnya aktif di berbagai organisasi. Ia dipercaya menjadi pengurus Lembaga Adat Melayu Riau Kota Pekanbaru. Meski berasal dari keluarga Sunda keturunan Tasikmalaya dan Cianjur, ia bahkan dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal Paguyuban Wong Indramayu Serantau Provinsi Riau tahun 2025 karena kemampuannya berbaur dan fasih berbahasa Indramayu.
Tahun 2026, amanah besar kembali datang. KDS terpilih sebagai Ketua Paguyuban Mitra Sunda Riau (MISURI) Kota Pekanbaru periode 2026–2031. Amanah itu diterimanya bukan sebagai kebanggaan, melainkan sebagai tanggung jawab untuk menyatukan dan melayani masyarakat Sunda di tanah rantau.
Kini, ketika orang bertanya apa rahasia perjalanan hidupnya, KDS hanya tersenyum.
“Saya pernah menjadi artis, chef, guru, Satpol PP, penjual sayur, kepala sekolah, penceramah, dan pengurus organisasi. Semua itu bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk mengajarkan bahwa Allah selalu menyiapkan jalan bagi orang yang mau berusaha, bersabar, dan tidak pernah berhenti berbuat baik.”
Karena sejatinya, kemuliaan seseorang bukan ditentukan dari profesi yang pernah dijalani, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ia tinggalkan bagi orang lain.

Tim Redaksi